Skip to main content

Celah bibir dan lelangit adalah cacat yang disebabkan gagalnya penyatuan hidung dan rahang atas saat pembentukan wajah janin sebelum kelahiran. Celah lelangit memang tidak terlihat dari luar, namun jika tidak ditutup pada usia dini akan menimbulkan kelainan bicara ketika anak besar nanti.

Insiden celah bibir dan lelangit di Indonesia belum diketahui diketahui secara pasti, hanya disebutkan terjadi satu kejadian setiap 1000 kelahiran. Penyebab dari celah ini bisa karena interaksi genetik yang diturunkan atau juga dari non genetik, seperti: penggunaan jamu yang mengandung logam berat, defisiensi asam folat dan zinc selama kehamilan dan usia muda pada ibu hamil. Penanganan celah ini harus dirawat sejak dini, terintegrasi dan berkesinambungan, sehingga perawatan akan menghasilkan hasil yang baik. 

USIA ANAK PERAWATAN
2-10 minggu  Obturator (plastik tipis pada lelangit) 
3-12 bulan  Bedah perbaikan bibir 
12-18 bulan 

Bedah perbaikan lelangit

Terapi wicara dimulai 

4-6 tahun  Perawatan orthodontik 
6-9 tahun  Alat orthodontik ekspander lelangit 
9-11 tahun 

Cangkok tulang pada celah alveolar

Alat orthodontik aktif 

11-18 tahun  Koreksi bibir dan hidung 
14-18 tahun  Bedah orthognatik (rahang) 

 (tabel di atas diganti infografis)

Salah satu jalan memperbaiki celah bibir dan lelangit ini adalah dengan operasi. Sebelum pendekatan bedah dilakukan, bayi harus diberikan ASI yang memadai terlebih dahulu agar kuat dan sehat. ASI sangatlah penting untuk bayi untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, tidak ada makanan yang lebih baik dari ASI. 

Namun, masalah yang ditimbulkan dari celah bibir dan lelangit adalah keluarnya ASI dan makanan dari hidung bayi pada saat menyusu. Hal ini dapat menyebabkan serangan batuk dan pilek yang berulang, sehingga operasi perbaikan celah bibir dan lelangit ditunda. Cara pemberian ASI pada bayi dengan sumbing bibir dan lelangit perlu perhatian khusus agar bayi dapat menerima ASI dengan baik. Bayi dengan celah bibir dan lelangit tidak mampu menghisap ASI dengan benar, sebaliknya mereka hanya menghisap udara sehingga mereka merasa kenyang. Sebelum menerima ASI yang cukup, bayi sering kali lelah dan tertidur karena memerlukan tenaga lebih untuk menyusu. Selain itu, cara pemberian yang kurang tepat sering kali membuat ASI masuk ke dalam paru-paru yang menyebabkan infeksi paru dan kadang infeksi telinga sehingga membuat anak sering jatuh sakit.

Cara yang benar dalam memberikan ASI:

 

 

Leave a Reply